Jumat, 26 Desember 2008

Benarkah Kesenian Tradisional itu Kuno Dan Feodal?

Benarkah Kesenian Tradisional Itu Kuno Dan Feodal? Oleh Frediec Haddy Tahta
Agaknya sudah bukan rahasia lagi kesenian tradisional di Indonesia mulai ditinggalkan generasi muda, dan masuknya kebudayaan luar melalui berbagai media tidak sedikit ikut memengaruhi apresiasi kaum muda terhadap kesenian daerah.
Saat ini budaya tradisional bangsa Indonesia, yang mempunyai nilai dan citra budaya sangat tinggi serta menjadi identitas di semua daerah di negeri ini tengah menghadapi tekanan akibat transformasi budaya asing.
Akibatnya, minat masyarakat untuk mempelajari dan mengembangkan budayanya semakin berkurang. Bahkan, sebagian masyarakat di negeri ini menyebut budaya tradisional sebagai budaya kuno, konvensional dan feodal.
Berangkat dari sini, timbul satu pertanyaan, benarkah kesenian tradisional di Indonesia saat ini sudah dianggap sebagai kesenian kuno, dan feodal, sehingga tidak perlu dijaga, dilestarikan, kemudian ditinggalkan saja, terutama oleh kaum muda negeri ini?Jika terjadi demikian, betapa menyedihkan negeri ini. Negeri Khatulistiwa yang agung, berbudaya tinggi, termasuk bidang seninya, kenapa harus demikian?Padahal baik buruknya, megah dan hancurnya seni tradisional yang merupakan budaya Bangsa Indonesia saat ini maupun masa yang akan datang merupakan tanggung jawab generasi muda negeri ini pula untuk melestarikannya.
Saat ini banyak anak muda kurang mengenal kesenian tradisional seperti karawitan dan gamelan. Mereka (anak muda) lebih senang dengan kesenian dan tradisi luar yang tidak jelas benar dari mana asalnya.
Mereka tidak lagi mengenal lagu-lagu daerah seperti karawitan, keroncong , yang mereka tahu justru musik rock, punk, metal, progresif dan alternatife yang pada dasarnya itu merupakan kebudayaan bangsa lain. Generasi muda kita lupa bahwa upaya pelestarian kesenian tradisional itu merupakan tanggung jawab mereka juga.
Selain itu, bukan tidak mungkin budaya yang digandrungi anak muda itu sama sekali tak mempunyai nilai positif.
Di masa sekarang ataupun masa yang akan datang tanggungjawab untuk mengembangkan dan melestarikan warisan leluhur tersebut bukan lagi ditentukan sepenuhnya oleh pemerintah, tetapi oleh masyarakat, dalam hal ini kaum muda sebagai generasi penerus agar kesenian dan budaya tersebut tidak hilang atau musnah di telan zaman. Terlebih lagi saat ini, budaya barat dan modernisasi merupakan konsumsi sehari-hari anak-anak muda. Akibatnya, kesenian dan budaya sendiri dianggap tidak 'ngetren' dan terkesan kuno, sehingga generasi penerus tidak mau menggelutinya bahkan mereka sudah tidak lagi mengenal budayanya sendiri.
Hal ini terbukti dengan semakin menurunnya minat generasi muda khususnya di Jawa untuk melihat pergelaran kesenian Jawa, termasuk wayang kulit.
Pada dasarnya kaum muda bukan tidak berminat terhadap kesenian tradisional, akan tetapi saat ini kemasannya harus bisa disesuaikan dengan kondisi seperti sekarang ini, sehingga tidak terkesan membosankan.
Melihat kenyataan seperti itu, kaum mudalah yang sangat berpotensi untuk tetap melestarikan kesenian daerah yang semakin lama semakin meredup ini.
Karena dengan semangat yang masih membara dari kaum muda, diharapkan akan membawa perubahan terhadap kemajuan kesenian daerah. Dan jangan sampai seni dan budaya bangsa Indonesia direbut oleh bangsa lain.
Transformasi budaya asing
Saat ini budaya tradisional bangsa Indonesia tengah menghadapi tekanan akibat transformasi budaya asing, Akibatnya minat masyarakat untuk mempelajari dan mengembangkan budayanya semakin berkurang.
Meskipun menghadapi tekanan, namun masih ada masyarakat yang berpegang teguh pada adat dan tradisi. Bahkan mereka berusaha mengembangkan budaya tersebut melalui kelompok-kelompok paguyuban bahkan ada yang membentuk komunitas.
Masyarakat seharusnya bangga karena memiliki aturan berbahasa. Masyarakat Jawa khususnya Jawa Tengah dikenal hingga mancanegara sebagai masyarakat yang berbudi luhur dan sopan santun. Namun perkembangan zaman mengatakan lain, sehingga banyak dampak di masyarakat yang membuat orang berpikir lain. Masyarakat Jawa dianggap sudah tidak lagi menerapkan ajaran budi pekerti.
Pekerjaan berat saat ini adalah berjuang untuk membuat bahasa dan sastra Jawa ini tetap eksis dan lestari.Maksudnya, tak lain dan tak bukan adalah agar generasi muda tidak merasa asing dengan budayanya sendiri, dan tidak lagi menganggapnya sebagai sesuatu yang kuno dan feodal.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar